Rheina menunggu Alwin di taman sore itu. Hampir 1 jam pas
Rheina menunggu Alwin. Mereka akan merayakan Anniv 3 bulan pacaran. Rheina
mengotak-atik handphonenya untuk mengirimkan pesan singkat kepada Alwin.
“ aaarhh! Alwin ada di mana sih? Lama lama gue minta putus
juga nih!” Rheina marah-marah sendiri. Tiba-tiba Alwin datang sambil mendorong
motor bebek bututnya dan melambaikan tangan kepada Rheina.
“ Haloo” sapa Alwin. “ jangan marah ya, tadi pas aku mau
nelpon kamu, handphone aku jatuh, terus eror. Motor aku mogok pula” Jelas
Alwin.
“ o aja o” Rheina kesal.
“ oo, iya. Happy anniv ya. Awe sayang Rheina” Alwin
mengeluarkan sesuatu dari jaket lusuhnya, setengah tangkai bunga mawar (bukan
setangkai karena tangkainya patah) “buat kamu..”
“ ga ada hadiah yang lebih special lagi apa?” Tanya Rheina
ketus.
“ ada kok”
“ mana?”
“ cinta aku buat kamu” Alwin tersenyum.
“ kamu tuh ya,ga pernah ada romantis romantisnya sedikitpun!
Bunga mawar aja masa patah gini?! Ini kan anniv, harusnya kamu ngasih hadiah ke
aku tuh special, bukan kayak gini!”
“ Rheina kok gak ngertiin keadaan Awe? Buat beli bunga ini
aja Awe harus nabung dulu selama 1 minggu, ternyata uangnya kurang, eh sama si
masnya tangkai bunganya dipatahin, biar pas gitu. Liat dong pengorbanan Awe,
harus nahan malu di depan orang-orang di toko bunga gara-gara beli bunga
mawarnya setengah tangkai” Jelas Alwin. “ nanti janji deh, kalau beli bunga
buat Rheina, tangkainya bakalan full, gak setengah setengah apalagi seperempat”
Alwin berlutut di depan Rheina sambil menggenggam erat tangan Rheina, membuat
Rheina iba. “ Maafin Awe ya..”
“ iya, Rheina maafin..” Rheina tersenyum.
---
#Flashback
“ tadaa” Alwin membuka penutup mata yang digunakan Rheina.
“ waahh” Rheina takjub, memutar tubuhnya untuk melihat semua
hasil kerja Alwin selama berminggu-minggu, ratusan origami berbentuk burung
yang menggantung di sana sini.
“ Aku punya sesuatu buat Rheina,”
“ Apa?” Tanya Rheina.
“ cinta aku yang sempurna khusus buat Rheina. Rheina mau kan
jadi pacar aku?” Tanya Alwin.
Spontan Rheina mengangguk tanda ingin menjadi pacar Alwin.
#Flashback off
“ aduhh” Alwin memasang dan melepas batrai handphone nokia
cenitnitnya berharap bisa menyala begitu saja. “ ayo handphoneku sayang,.
Nyalaa.. nyaaalaa!” Alwin komat kamit seperti dukun yang membaca mantra untuk
menyembuhkan pasiennya.
“ 12345” Alwin memejamkan matanya sambil berhitung, kemudian
membuka matanya, tapi handphonenya tak kunjung sembuh juga.
“ Alwin! Ngapain kamu?ayo bantu ibu” ujar ibunya yang
tiba-tiba masuk ke kamar Alwin membuat Alwin terloncat kaget.
“ eh ibu.. iya bu, bentar”
“ kamu kenapa?”
“ Handphone alwin ga nyala-nyala bu” Alwin memasang wajah
memelasnya.
“ nanti ya, kalau ada rejeki. Ibu belikan handphone untuk
Alwin.”
“ Ga usah ah bu” Ujar Alwin menggeleng,Alwin pengertian,
Alwin mengerti keadaan keluarganya saat ini.
--
Di sisi lain, Rheina sedang bercanda canda lewat sambungan
telepon dengan lelaki lain, yang lebih tajir dari Alwin hingga membuat Rheina
terkesima karena rumah lelaki itu bertingkat 4, Lee orangnya.
“ Rheina kamu mau ga jadi pacar aku?” Tanya Lee.
“ Aduh, gimana ya..” Rheina bingung. Di sisi lain Rheina
menyayangi Alwin, tapi di sisi lain, Rheina menyayangkan ketajiran Lee yang
benar –benar bisa dibilang WOW WOW WOW. Rheina merenung sejenak.
" gimana, mau gak jadi pacar aku?" Tanya Lee
ulang.
" mm" Rheina berfikir sejenak.
" Mau yah? please" bujuk Lee.
" Gimana yah, kamu bisa kasih aku waktu gak?"
Tanya Rheina.
" Oke, aku kasih kamu sampe besok ya.."
**
" selamat pagii Rheina.." Alwin muncul dari balik
semak-semak saat Rheina berjalan menuju kantin.
" Kemana aja sih kamu? Malem aku sms gak di bales!
nomor kamu gak aktif.. huh" Rheina mendengus kesal.
" Handphone aku kan butut, rusak gitu, dia gak mau
nyala. buat sementara ini, maaf ya, ga bisa smsan apalagi telponan. Aku nabung
dulu ya buat beli handphone baru" Alwin menjelaskan panjang lebar lagi.
" Hey! Buat beli bunga mawar setengah tangkai aja kamu
harus nabung selama 1 minggu, ini gak kebayang, handphone.. 1 tahun lebih sih
ada.."
" Yahh, kok kamu tiba-tiba sensi gini?" Tanya
Alwin. " Please, forgive me.." Alwin memasang wajah memelasnya.
" Iyaa, aku maafin kamu.." Rheina menarik nafas
panjang dan membuangnya perlahan.
" Makasiihh... Selama handphone aku mati gini, aku
harap kamu ga telponan sama cowok lain, terus cowok itu lebih tajir dari aku,
terus cowok itu nembak kamu. waahh, bisa bisa aku salto 3 kali
berturut-turut" canda Alwin yang perkataanya memang benar adanya.
" Ihh, sok tau banget" Rheina sensi lagi.
" Nah kan, kamu PMS ya? marah-marah melulu" Alwin
meniup poninya. " Atau emang bener adanya waktu malem kamu di tembak lewat
telepon?" Alwin menatap Rheina tajam, kemudian tersenyum lagi " Gak
mungkin kan kamu kayak gitu. aku percaya kamu.. kamu kan setia sama aku.."
" iyalah, aku setia sama kamu. tapii.."
" tapi apa?"
" Aku lapar..."
" Bentar" Alwin menyodok-nyodok sakunya,
membongkar tasnya. tapi hasilnya nihil, Alwin tak menemukan uang sepeserpun.
" aku ga punya uang... hehe. tapi aku bawa makan dari rumah.. capcay
bikinan mama.. taraaa" Alwin membuka tutup tupperware. Rheina memandang
capcay itu.
" Ih," Rheina bergidik.
" kenapa? ini enak lho.. mau aku suapin?" Tawar
Alwin.
" nggak deh" Rheina memandang jijik.
" yahh, yaudah deh.. padahal ini enak.." Alwin
mencomot capcay-nya. tiba-tiba Rheina mendapat pesan singkat,
From: Lee
To: Rheina
bisa ketemu sama aku di taman, sekarang?
" Awe, Rheina pergi dulu ya... Rheina ada kelas.."
" Bukannya kelas Rheina siang ya? Sekarang kan masih
pagi?"
" Aduuhh, kepo bangett Awe" Ujar Rheina ketus.
" Iya dong, kepo sebagian dari perhatian.."
" Tapi kamu tuh keponya bener-bener.." Rheina
menjulurkan lidahnya.
" Yaudah deh, siapa tau kamu mau ketemu cowok di ujung
taman sana. daaa" Gurau Alwin sambil melambaikan tangan.
" Apa?" Tanya Rheina.
" Katanya mau pergi? yaudah sana. daaa" Alwin
mengulangi ucapannya dengan sedikit membungkuk agar matanya menatap mata Rheina
lurus tanpa harus menunduk lagi.
" ya udah.." Rheina merasa senang dan berlari
menuju taman.
" tuh kan, bener ke taman" gumam Alwin.
--
" Rheina." Sapa Lee manis saat Rheina sampai di
taman.
" Lee, aku udah mutusin.. aku mau jawab pertanyaan kamu
sekarang.." Ujar Rheina sambil duduk di sebelah Lee.
" Ayo, jawab sekarang" Lee bersorak.
" Aku... mau kok.... jadi pacar kamu. tapi, jangan
sebarin hubungan kita ya" Rheina terbata-bata.
" ga apa-apa.. yeeeee" Lee girang gembira bagaikan
pom pom boy yang sedang mendukung team basket yang sedang bertanding.
" ih lee apaan sih.." Rheina tersenyum geli.
" Nanti siang kita jalan yuk?"
" Siang aku ada kelas..."
" yahh, please lah, kamu ngebolos buat hari ini aja..
kita shopping, nonton, makan.." Goda Lee yang langsung membuat Rheina
tergoda, sangat tergoda.
" iya deh" Jawab Rheina spontan.
Alwin memang berbeda dengan Lee. Alwin sekalipun tak pernah
menyuruh Rheina bolos agar bisa jalan-jalan dengannya, tapi Lee, Lee malah
menyuruh Rheina bolos. :/
--
" pulang dari sini, kita pergi ke pantai yuk.."
Ajak Lee sambil mengunyah makanan.
" Ayo. ayo" Jawab Rheina semangat.
Setelah makan pun sambil membawaan belanjaan yang amat
teramat banyak, mereka pergi ke pantai sambil melihat matahari yang terbenam
nanti.
Sedangkan Alwin, meskipun hari sudah sore dan hampir malam begini,
Alwin tetap menunggu Rheina di depan gerbang.
" Ya tuhaann, kenapa handphone bisa rusak gini.. jadi
gak bisa ngehubungin Rheina kan.." Alwin menatap langit-langit. " hua
hua hua hua" Alwin merengek.
“ Bro! jam segini ngapain lo ada di sini?” Tanya salah satu
teman Alwin yang bernama Jay.
“ nunggu pacar gue lah..” Jawab Alwin.
“ Rheina?” Tanya Jay.
“ Iya.. siapa lagi?”
“gue liat dia kaga masuk kelas hari ini..”
“ ah masa? Ngarang aja lu. Tadi pagi pan ketemu sama gue.”
" ngeyel ih. minjem hape lu dong, nebeng nelpon"
" daridulu, lo itu kerjaannya nebeng mulu.. -_-"
" gapapa dong, ganteng ganteng gini juga gue doyan yang
gratisan :D" #traktakdungcess
" hh, yaudah, nih" Jay memberikan handphonenya dan
Alwin mulai memencet tombol-tombol untuk menuliskan nomor Rheina.
" Rheina, kamu dimana ih?" Tanya Alwin.
" Di rumaah.." Dusta Rheina.
" Kapan pulangnya?"
" Tadi sore.."
" Masa sih? orang sepanjang sore aku standbye di pos
satpam. "pulang lewat mana? masa kamu ngeloncatin tembok kampus?"
" mm, mungkin kamu gak liat aku kalii.."
" Aku ke rumah kamu ya.."
" Ngapain?"
" Lah, biasa juga ke rumah kamu pan? apalagi emangnya
sok?"
" mmm, aku sibuk.."
" Sibuk ngapain? ngembala kambing? meras susu sapi?
atau ngitung telor ayam di peternakan kuda?" Tanya Alwin.
" ih kamu kepo!" Tukas Rheina.
" Aku kepo kan karena perhatian!" Alwin tak mau
kalah.
" Kamu jadi bentak bentak aku gini apa maksud?!"
" Kamu juga pan biasa ngebentak aku?"
" Ah, kamu alatau!" Rheina memutuskan sambungan
telepon.
" Itu siapa tadi sayang?" Tanya Lee.
" Mama aku.."
" Ke mama kok ngebentak gitu?"
" eh, salah, itu adik aku.."
" kamu emang punya adik?"
" ihhh, kamu kok kepo gini sih?"
" aku kepo karena aku pengen tau.."
" bukan karena perhatian?" Tanya Rheina.
" bukan lah," Lee memperhatikan ombak ombak
menari.
" kamu ga perhatian sama aku?" Tanya Rheina.
" kamu pengen diperhatiin sama aku?"
" Kok malah nanya balik?"
" aku kan nanya karena aku pingin tau.."
" lee, kok kamu nyebelin sih?"
" Rheina, kenapa coba kamu pake terima aku jadi pacar
kamu? pengen shopping terus ya?"
" Lee, kamu jahat sama akuu."
" Aku? jahat sama kamu? Kata siapa?"
" aku kan tadi ngomong!"
" ngomong sama kamu itu aku harus nguras dulu otak ya,
ngebingungin sangat!"
" kamu bikin aku pusing!"
" kalo pusing kenapa mau diajakin ke pantai sama
aku?"
" lo jahat!"
" jadi gue elo bahasanya? gue ga jahat, gue tuh
humoris" Lee tersenyum simpul.
" tauk ah!" Rheina pergi dan Lee mengejarnya.
" Sayang, aku cuman bercanda kok. aku kan pelawak..
maafin akuu.." Lee berjalan cepat menyusul Rheina.
" peduli amat!!" Rheina berjalan lebih cepat.
" Heyy hey, mau kemana nihh?" Sekelompok preman
mengelilingi Rheina yang berada jauh di depan Lee.
" Gua mau pulang. awas lo.."
" kenapa pulang sih neng? mending sama kita aja.."
ujar salah satu preman sambil mencolek dagu Rheina.
" LEE!" Rheina menjerit memanggil nama Lee, tapi
setelah Rheina lihat, Lee malah berlari terbirit-birit dan kabur membawa
mobilnya pergi. " sial! Nyali lo ciut LEE!!" Rheina kini ketakutan.
" Yuk, ikut abang"
" Tau umur dong lo!" Rheina malah membentak para
preman itu.
" Malah ngebentak segala.. ayoo ikut"
" nggak!!" Rheina bersikeras sehingga dengan paksa
tangan Rheina ditarik oleh preman itu. Rheina meronta sambil memanggil-manggil
nama Alwin.
Rheina menyesal telah menerima Lee dan mengabaikan Alwin
yang sangat menyayangi Rheina.
“ ALWIINNN!” pekik Rheina ketika melihat sosok Alwin yang
ngebut dengan motor bututnya. Alwin mengerem motornya dan celingukan.
“ Rheina?” Alwin menuruni motornya dan mencari-cari Rheina
yang sebenarnya berada di balik semak-emak.
“ ALWIINN!!” plakk, Rheina mendapat tamparan dari preman
itu.
“ berisik lo! Diem lo! Atau gue tusuk lo pake ini!” Preman
itu menunjukkan pisaunya. Rheina seketika terdiam karena ketakutan.
“ Rheina? WOY! Ngapain lo?!” Alwin segera menghadang ke 4
preman itu. “ Don’t touch my girl!”
“ Lo berani sama kita? Kita banyak lho, lo sendirian..”
Ledek Preman itu.
“ Jangan lo pikir tato tato murahan lo itu bisa bikin gue
takut!!”
“ Apa lo bilang?” bukk, satu pukulan menghantam perut Alwin.
“ selain punya tato hadiah permen karet, lo juga budek ya!
Haha” Ledek Alwin yang menahan sakit di perutnya.
“ Alwin! Stop!”
“ arrhh!”Alwin mengerang ketika pisau tajam itu tergesek ke
lengan Alwin, pisau itu menggores lengan Alwin sampai sikut, hingga membuat
darah Alwin bercucuran.
“ haha, bodoh! Beraninya pake senjata.” Alwin masih meledek
preman itu.
“ lo bener-bener nantangin kita? Ayo! Kita bikin cowok ini
bonyok..”
“ lo boleh bikin gue bonyok, sampe mati pun gue rela.
Asalkan lo jangan sentuh sedikitpun tubuh cewek gua!! Demi apapun, gue rela
mati! Asalkan cewek gua selamat! Denger lo? Atau lo budek? Atau perlu gue
ngulangin lagi perkataan gue tadi? DON’T TOUCH MY GIRL!” Para preman mulai muak
dengan perkataan Alwin mulai mengeroyoki Alwin, pukulan demi pukulan mendarat
di perut, wajah, dan yang lainnya. Alwin tersungkur dengan muka yang penuh luka
dan darah di tangannya yang mulai mongering
“ Udah ah, kenyang deh mukulin lo..” Preman itu tersenyum
puas. “ kalo lo pengen dikeroyok lagi kayak gini, datang lagi aja ke sini ya..”
Para preman itu meninggalkan Alwin yang bonyok dan Rheina yang menangis
sejadi-jadinya.
“ Alwin, kamu gakk apa apa kan?”
“ Harusnya aku yang nanya, kamu gak apa-apa kan?” Rheina
terseyum ditengah-tengah tangisannya.
“ Keadaan kayak gini, kamu masih sempet-sempetnya nanyain
keadaan aku..”
“ Jangan nangis, please..” Alwin mencoba menghapus airmata
di pipi Rheina.
“ ini salah akuu…”
“ bukan salah kamu kok, ini salah para preman itu.. aku gak
apa-apa kok” Alwin mencoba berdiri dan berjalan menuju motornya. “ Ayo, aku
anterin kamu pulang..”
“ kamu kan sakiitt.. aku panggil taksi aja ya?”
“ ga usah lah.. aku bukan anak kecil yang dicubit langsung
nangis kok.. aku udah gede”
“ kamu dipukul win! Bukan di cubit ibu kamu!” Rheina
menangis lagi.
“ loh kokk nangis sih? Mendingan marahin aku..”
“ Marah?”
“ iya, marahin aku yang terlalu cinta sama kamu. Marahin aku
yang terlalu sayang sama kamu. Marahin aku yang suka kepo sama kamu.. marahin
aku yang tadi udah nunggu kamu sepanjang sore.. marahin aku karena aku cuman
bisa ngasih setengah tangkai bunga buat kamu. Aku terlalu cinta sama kamu..
meskipun aku gak sempurna, aku miskin iya, nyebelin iya,tapi cinta akulah yang
sempurna buat kamu. Sebuah cinta yang sangat sempurna dan hanya akan kuberikan
kepada kamu Rheina, perempuan di dunia ini setelah ibuku yang sangat aku
cintai..”
“ Jadi aku dijadiin yang kedua nih?”
“ maunya?” Alwin tersenyum.
“ apapun yang penting sama kamu, aku pasti mau..” Rheina
memeluk Alwin penuh haru.
“ I love you, Rheina..”
“ I love you too, Alwin..”
Maaf kalau jelek, ini alhamdulillah asli karya aku sendiri... Maaf kalau typo, abal, pokoknya butut banget deh.. aku kan cuman penulis amatiran yang berharap bisa sesukses Agnes Davonar.
Dream, believe it, make it happen :)
Dream, believe it, make it happen :)
Smile ;) Ck



















